Seorang perempuan yang hampir tujuh tahun ditinggal suaminya
tanpa kabar berita mendapat tawaran menggiurkan dari mertuanya, yaitu akan
diberi sebuah mobil baru dan toko beserta isinya. Tawaran ini merupakan semacam
kompensasi atau ganti rugi, sekaligus permohonan maaf akibat perbuatan anak
mereka yang tidak bertanggung jawab. Kebetulan mertuanya seorang pengusaha perkebunan,
dan di kotanya masuk kategori orang terkaya.
“Aku menolak”
“Kenapa?”
“Pemberian itu bersyarat, aku harus mau hidup bersama
suamiku lagi. Buatku itu sangat berat, bukan karena aku tidak bisa memaafkan
perbuatannya, tapi karena dia sama sekali tidak berubah, dia masih tetap
seperti yang dulu, yang gemar berhutang untuk berfoya-foya, yang tidak punya
itikad baik padaku dan anak-anak, bayangkan dia sendiri tidak pernah minta
maaf, tidak pernah memberi sepeserpun uang, bahkan memanfaatkan nama ayahku
untuk berhutang ke rekan-rekan ayahku, katanya untuk membiayai pengobatan
ayahku. Itu kan fitnah dan pencemaran nama baik, ayahku tidak pernah minta
dihutangkan, karena semua pengobatannya sudah dibayar asuransi. Yang paling
berat buatku, dia gemar main perempuan, pernah kumpul kebo dua tahun, bahkan
ketika masih bersamaku dulu sering membawa perempuan lain ke rumah ibunya, aku
tidak percaya watak itu bisa berubah ”
“Tapi kan mertuamu baik?”
“Memang, tapi mertua kan tidak sama fungsinya dengan suami. Apa
gunanya fasilitas berlimpah tapi orang terdekat kita berperangai sangat buruk.
Buatku, harta bukan jaminan bahagia, harta bisa dicari, tidak harus
mempertaruhkan hidupku demi harta. Kalau aku ingin punya mobil, aku akan
bekerja lebih giat, kalau aku ingin punya took, aku akan menabung lebih besar,
sekarang aku masih fokus menjual produkku via online dan memanfaatkan rumahku
untuk bengkel kerja dan show room. Aku yakin, kalau mau berusaha, tidak ada
yang mustahil”
“Kamu sudah mantap?”
“Sangat mantap. Hidup
sangat berharga untuk diserahkan dalam perangkap orang yang telah menorehkan
sejarah kelam dalam hidupku dan tidak punya komitmen berubah.”
Umurnya belum genap 30 tahun, tetapi pengalaman telah
mengajarkan ketegasan dan keberanian. Dia yang menikah hanya sehari setelah
kelulusan SMA-nya, telah menjadi perempuan karang yang menolak menyerah pada
gelombang. Ia tidak larut dalam keterpurukan atau meratapi nasib, melainkan
berjuang keras tetap tegak dan tersenyum. Ia merintis usahanya sejak suaminya
tidak lagi jelas ada di mana, dan alam membuktikan, ia terlalu hebat untuk disepelekan.
Perempuan tidak perlu silau oleh limpahan harta, terlebih
jika limpahan itu mengandung gejala-gejala yang cukup jelas ke arah
pembelengguan. Tidak perlu jatuh pada lubang yang sama, hanya demi mendapatkan
sejumput harta. Tuhan Maha Pemurah, jika kita memintanya dengan cara yang
disukai-Nya, Insyaallah semua akan diberikan, termasuk yang tidak diminta. Cara
yang disukai antara lain adalah bekerja sebaik mungkin di bidang yang kita
mampu, agar dengan itu kita dapat memberi manfaat kepada sesama, meminta dengan
penuh kesungguhan dan kepasrahan serta berkomitmen membagi anugrah yang telah
diterima. Dengan keringat yang dikucurkan sendiri, menurutku nikmat akan jauh
lebih terasa, daripada mendapatkannya dengan menggadaikan harga diri.

0 Response to "MENOLAK DIBERI MOBIL, SIAPA TAKUT?"
Posting Komentar