Ada seorang teman laki-laki yang bercerita padaku, “Kemarin aku menegur istriku, karena sering cemberut di hadapanku, jarang tersenyum, eh dia malah tambah cemberut dan tidak mau ngomong, padahal kan aku sebagai suami ingin dia menjadi wanita salihah, aku baca di sebuah hadis katanya ciri-ciri wanita salihah harus menampakkan muka yang membuat suaminya senang, harus menentramkan, kalau sampai bermuka judes, cemberut, dan suami tidak ridho kan dia sendiri yang rugi, dosa kan? Nanti dibangkitkan dari kubur wajahnya hitam legam. Iya nggak?”
“Kamu sudah selidiki belum, dia bermuka tidak cerah itu karena apa? Jangan-jangan kamu sendiri penyebabnya?”
![]() |
| Pernikahan |
“Aku sudah tau, gara-garanya dia capek, banyak kerjaan, ngurusi rumah tangga, ngurusin anak, ngurusin keperluanku, tapi bukankah itu resiko sebagai istri, kewajibannya dia, seharusnya dia ikhlas, nggak cemberut di hadapanku. Dia juga ingin jalan-jalan, tapi aku malas”
“Lalu, ketika melihat dia repot, apa yang kamu lakukan?”
“Ya, diam saja. Aku kan kerja di toko, cari uang untuk dia dan anak-anak, masa sampai rumah masih harus kerja. Aku kerja dari pagi sampai sore, jm 5 baru sampai rumah”
“Aku sarankan kamu belajar lagi agar tidak merasa sebagai pahlawan yang paling berjasa di rumah lalu boleh mengabaikan hak-hak istrimu”
“Loh, apa haknya dia yang aku langgar?”
“Banyak. Hak untuk istirahat sama banyaknya denganmu. Kalau kamu hanya kerja dari pagi sampai sore, kenapa kau tuntut dia bekerja dari fajar sampai tengah malam? Apa kau pikir dia mesin yang tenaganya seperti listrik? Perempuan juga manusia, tubuhnya punya hak istirahat. Kalau dia repot, kau seharusnya membantu, bukan memandangnya dengan menuntut lebih banyak. Kalau kerjamu mencari nafkah kau jadikan alasan untuk tidak membantunya, memangnya kau pikir dia kerja di rumah untuk siapa kalau bukan untuk kau dan anak-anak? Untuk dia sendiri? Bukan.. Jadi, jangan merasa peranmu paling penting sedunia, peran di rumah sama pentingnya dengan peran cari uang ”
“Yang kedua, sebelum kau menuntut istrimu selalu tersenyum dan bermuka cerah, kau harus belajar ilmu jiwa. Apa hal-hal yang wajar membuat orang tersenyum? Apa yang wajar membuat orang cemberut? Kalau sumber masalahnya itu ada padamu, kau sama saja dengan orang yang menagih utang pada seseorang padahal dia tidak berhutang padamu”
“Ketiga, jangan cuma baca hadis yang membuatmu tampak lebih penting. Baca juga hadis tentang Khalifah Umar ibn Khathab. Beliau itu pemimpin negara, tapi ikhlas diomeli istrinya, bukan hanya dicemberuti, karena dia sadar bahwa istrinya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang menurut Umar itu semua bukan tanggung jawab istri, melainkan tanggung jawab dia sebagai kepala rumah tangga. Beliau dicemberuti dan diomeli hanya diam, jangankan menuntut istrinya bersikap lebih baik, menegur agar menghentikan omelannya saja tidak dilakukan. Baca juga hadis yang meriwayatkan Rasululloh SAW yang biasa melayani dirinya sendiri, melayani keluarganya, dan tidak merasa harga dirinya turun karena melakukan itu semua. Apa kau merasa lebih terhormat dibandingkan kedua manusia yang amat sangat mulia ini sehingga tidak ridho dicemberuti istri yang kecapekan karena mengurusmu?”
Dia diam.
“Kalau kau ingin istrimu berubah, kau sendiri yang harus berubah duluan. Kalau kau ingin dia selalu tersenyum, hentikan kebiasaanmu yang membuatnya tidak tersenyum. Kau bisa bantu pekerjaannya di sisa waktu kerjamu, kau bisa ajak dia refreshing, beri kejutan manis, atau lainnya. Jangan berlaku standar tapi minta layanan spesial. Shalihkan dulu dirimu, sebelum menuntut dia menjadi shalihah. Jangan membayangkan dia akan dibangkitkan dengan muka hitam legam, padahal kau juga tidak tau akan dibangkitkan dengan muka bagaimana. Insyaallah dengan mau memulai berubah, dia ikut berubah, kalian akan sama-sama mendapat ridho Tuhan, karena kalian saling meridhoi”

0 Response to "MENAGIH KEPADA ORANG YANG TIDAK BERHUTANG"
Posting Komentar