Aku termasuk orang yang terlambat tahu bahwa kemarin,
tanggal 12 Nopember disepakati sebagai Hari Ayah Nasional. Menjelang tengah
hari, adik-adiku ngajak ngobrol via inbox, mau merayakan hari ayah dengan
bagaimana?Aku yang agak telat info malah bertanya memangnya kapan waktunya?
Setelah diberitahu, kami lantas bersepakat bahwa malam hari akan berkumpul
menemani Abah ngobrol dan makan malam, dengan membawakan kado spesial.
Tentang
kado ini, kami sempat bingung, apa yang special buat Abah? Kalau Ibu ditanya
kado, hamper pasti akan menyebut satu kata: mukena, sehingga setiap hari Ibu
atau lebaran, aku berusaha mencari mukena terbaik yang cocok dengan selera Ibu.
Tapi Abah? Baju shalatnya yang berupa jubah putih jumlahnya sudah 15 (hadiah
dari orang-orang pulang haji), sarungnya puluhan (hadiah dari banyak orang,
sebagian besar diberikan lagi pada anak-anak yang pamit mau mondok atau kerabat
yang mau nikah), baju baru tiap tahun juga cukup banyak (hadiah pula), jadi
pakaian tidak special.
Setelah menimbang-nimbang berbagai barang, akhirnya, atas
usul adikku, kami sepakat memberi hadiah mesin pertukangan. Ini erat
hubungannya dengan aktivitas (entah hobi, entah pekerjaan) Abah tiap hari,
yaitu membuat perkakas rumah dari kayu. Hampir semua kursi, lemari, ranjang,
rak buku, meja dan lain-lain yang ada di rumah adalah hasil karya Abah sendiri.
Setiap selesai mengerjakan satu barang, selalu dilanjutkan membuat barang lain,
(kali ini sedang finishing lemari khusus jubah, yang didesain sangat tinggi,
agar atasnya tidak dipakai menaruh barang apapun, dan kakinya diberi roda, agar
mudah dipindahkan).
Adikku yang kebetulan di kota bertugas mencari di took,
tetapi hingga sore belum menemukan. Akhirnya, jam 4 kurang 5 menit suamiku
berangkat ke took besi dan mendapatkan mesin bor kayu. Kata adikku, selama ini ketika butuh
melubangi kayu, Abah selalu pinjam punya tetangga yang memang tukang professional.
Akhirnya, malam hari tadi, kami berkumpul dan menyerahkan mesin bor ini yang
dibungkus kertas kado motif batik. Kami bahagia sekali Abah menerimanya dengan
gembira, katanya bor manual yang dimiliki agak sulit dipakai, dan beresiko
tinggi terhadap kerusakan kayu.
Tentang bor kayu dan alat-alat tukang lainnya, aku punya
kenangan khusus. Kata Abah, sejak umurku 2 tahun, aku sangat suka merebut
segala alat tukang yang sedang dipakai Abah, lalu memainkannya seperti tukang
dewasa. Itu berlangsung setiap hari. Kelas 1 SD aku sudah bisa menggorok kayu
dan bamboo dengan baik, dan sering menebang pohon-pohon yang belum terlalu
besar dengan gorok. Sampai sekarang, jejak-jejak kreatifitasku masih dapat
terlihat. Tiang-tiang kayu di rumah, tidak ada yang sudutnya lancip, karena
bekas menjadi objek kreatifitasku memakai tatah. Sayangnya jaman itu belum ada
orang punya kamera, sehingga tingkahku yang menggemaskan (dan menyebalkan)
tidak terekam. Sayangnya lagi aku tidak mengembangkan bakat ini dengan cukup
baik.
Aku suka sekali dengan cara Abah memperlakukan
kreatifitasku, yaitu tidak pernah memarahi atau melarangku, walaupun menukang identik
dengan pekerjaan laki-laki. Abah selalu
mengalah, menghentikan pekerjaannya dan memilih istirahat, baru setelah aku
puas bermain dilanjutkan lagi kerjanya. Kadang-kadang, Abah mengajariku cara
memakai alat-alat itu, atau mengajariku membuat mainan dari sisa-sisa potongan
kayu yang berserakan. Setelah aku besar, Abah mengatakan alasannya: “Orang
perlu bisa apa saja, kalau ada kesempatan belajar jangan sampai dilarang,
semakin banyak yang dimampui, hidup akan semakin mudah dan mandiri”. Alasan
lain, “Anak kecil itu masanya bermain, mencoba apa saja yang bisa dicoba, tidak
perlu dilarang-larang, yang penting diawasi keamanannya. Anak yang terlalu
sering dilarang mencoba, akan takut dan minder, akibatnya bakatnya tidak
berkembang, tidak berani mencoba karena takut disalahkan, bisa mengurangi
kecerdasan”
Aku bahagia sekali, Tuhan memberiku anugrah seorang ayah
yang sangat sederhana tapi memiliki
komitmen sangat baik terhadap pelaksanaan hak-hak anak, terutama hak untuk
bermain, belajar, tumbuh kembang dan perlindungan dari segala bahaya. Aku
senantiasa memintakan beliau panjang umur, sehat selalu dan senantiasa
memberikan dedikasinya bagi keluarga dan masyarakat.

0 Response to "AKU, ABAH DAN ALAT TUKANG (Sebuah Catatan tentang Hari Ayah, kemarin)"
Posting Komentar