Ada dua teman yang baru saja mengajakku berdiskusi tentang rumah tangganya. Sakinah, mawaddah dan rahmah sebagaimana yang dicita-citakan dulu menurut kedua temanku ini belum dapat dirasakan. Di antara mereka ada keserupaan pernyataan tentang pasangannya.
Teman yang perempuan mengatakan, “Kesalahan terbesarku adalah memutuskan menerima lamaran lebih karena pertimbangan keluarganya, dan menganggap tidak merasa perlu mengetahui secara detail kepribadiannya. Yang aku tahu, orang tuanya kaya raya, pikirku dia pasti punya bagian atas harta orang tuanya, mana mungkin ada orang tua kaya yang akan membiarkan anaknya hidup miskin. Wajar dong perempuan ingin bersuamikan orang kaya agar dapat hidup sejahtera. Ternyata, dia tidak punya etos kerja, terlalu menikmati kekayaan orang tuanya sehingga malas bekerja, menghabis-habiskan jatah hartanya untuk berjudi dan berfoya-foya, jadilah kami menjadi pasangan termiskin dalam keluarga besar mereka, terlilit banyak hutang dan bertengkar terus menerus. Seharusnya dulu aku berusaha mengenal lebih jauh siapa dia secara pribadi, bukan hanya memikirkan harta dan orang-orang di sekitarnya”
Temanku yang satunya, laki-laki mengatakan, “Pertimbanganku memilih istri sederhana sekali, ‘yang pantas diajak kondangan’, alias cantik dan molek. Aku terpesona oleh kecantikannya yang mirip artis favoritku, Nikita Willy. Aku membayangkan, kalau menikah dengannya, pasti semualaki-laki akan memandangku dengan iri dan cemburu. Soal lain, aku pikir akan mudah dibicarakan. Ketika orang-orang mengingatkanku apakah aku telah mantap dan mengenalnya dengan baik, aku jawab ‘gampang, nanti sambil jalan bisa mengenal lebih dekat, bisa diatur, yang penting dia sudah bilang mau nikah denganku’. Ternyata, belum setahun menikah, aku merasa hidup bagai di neraka, dia bukan tipe orang yang bisa diajak bicara, bisanya memerintah, apa saja yang dia perintahkan aku harus ikuti, bahkan aku tidak boleh menjenguk ibuku yang sudah renta. Jika aku melanggar, dia mengancamku cerai. Aku benar-benar seperti budak cinta”
Terlepas dari isi diskusiku dengan keduanya, memilih orang untuk jadi suami atau istri adalah keputusan yang sangat penting dan akan berdampak sangat besar dalam hidup seseorang. Pilihan yang tepat, atau mendekati tepat, berpotensi akan membuat perkawinan bertabur bahagia dan tentram, sebaliknya, memilih orang yang tidak atau kurang tepat berpotensi akan seseorang kelelahan karena sebagian besar energinya dihabiskan untuk berperang, berusaha damai, berperang lagi hingga banyak agenda penting tidak sempat terurus.
Masalahnya, dalam masyarakat ada semacam mitos atau keyakinan yang salah kaprah bahwa bagi perempuan yang terpenting adalah suami yang mapan secara materi, karena perempuan dapat diibaratkan akan menumpang hidup pada suaminya, bukankah suami wajib menafkahi istrinya. Mitos serupa, bagi laki-laki yang terpenting adalah istri yang fisiknya indah dipandang, karena istri akan menjadi pelepas lelah suaminya setelah bekerja, akan digandeng ketika menghadiri kondangan, sehingga harus pantas dipamerkan. Mendapatkan perempuan yang indah dipandang seringkali dipandang sebagai prestasi besar laki-laki.
Itu mitos.
Faktanya, untuk bahagia, perempuan tidak hanya butuh harta. Apalah artinya harta, jika hidupnya terpenjara dalam perangai dzalim orang terdekatnya. Dalam keadaan seperti ini, aku yakin semboyan perempuan akan berubah, ‘harta bisa dicari bersama, yang penting tanggung jawab”. Faktanya juga, laki-laki tidak hanya butuh tubuh istrinya. Apalah arti tubuh yang molek, apabila perangainya bagaikan serigala atau majikan. Aku pastikan, imajinasi tentang prestasi menaklukkan perempuan cantik sama sekali tidak akan berguna dalam keadaan seperti ini.
Perempuan dan laki-laki membutuhkan orang yang sama, yaitu pendamping yang bisa diajak berbagi dan bekerjasama, yang berkomitmen mau tolong menolong, bekerja keras untuk keluarga dan tentu saja, setia. Jika komitmen ini ada, dalam keadaan berkekurangan, keduanya bisa saling mendukung, dalam berkelimpahan, keduanya bisa saling berterima kasih.
Kalau begitu, tidak boleh memilih suami yang mapan secara materi? tidak boleh memilih istri yang cantik jelita?”
Tentu saja boleh, tapi sebaiknya dicari informasi yang lengkap, agar ada gambaran yang jelas bahwa materi atau kecantikan itu akan dipakai sebagai sarana mencapai kebahagiaan bersama, bukan untuk mendzalimi pasangannya. Yang jelas, memilih adalah ijtihad, bisa benar bisa salah. Kalau benar bisa dinikmati, kalau salah bisa diperbaiki, apakah diperbaiki cara menikmatinya, atau diperbaiki pilihannya.

0 Response to "ILUSI TENTANG HARTA DAN KEMOLEKAN"
Posting Komentar