Kemarin sore, ketika berdiri parkiran sebuah toko aku melihat seseorang lewat mengendarai sepeda motor. Ia memandang ke arah kami, membungkukkan kepala sambil tersenyum ramah. Tentu saja kami membalas sapaan itu dengan ramah pula. Tetapi, kemudian ada celetukan dari juru parkirnya, “Sekarang sudah bangkrut mau menyapa
kita-kita, dulu ya boro-boro, nggak level”. Seseorang yang lain menyahut,
“Mending kalo cuma nggak menyapa, tetangga-tetangganya yang miskin kenyang dihina, aku mau mengantarkan punjungan (hantaran nasi menjelang hajatan) saja nggak disuruh masuk, cuma ditemui di pintu biar cepat pulang”.
“Sekarang baru tahu rasanya miskin. Rumah sudah dalam genggaman bank, sawah, tanah, mobil sudah melayang. Korban investasi”
![]() |
| Rendah hati seperti padi |
Jika orang itu mendengar, tentu ia tidak suka diobrolkan semacam ini. Sudah bangkrut, (seolah-olah) disoraki pula. Tapi, obrolan itu memberiku pelajaran penting. Jangan menunggu miskin untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Lebih baik bersikap rendah hati kapan saja, apakah ketika berlimpah harta, sekedar berkecukupan atau sedang diuji dengan kekurangan. Kita tidak pernah benar-benar memiliki harta itu. Terlalu mudah bagi Sang Pemilik Sejati untuk mengambilnya, kapan saja Dia mau. Menjadi korban investasi tipu-tipu sebagaimana marak di kampungku hanyalah salah satu cara di mana Dia tunjukkan kekuasaan-Nya. Entah berapa ratus milyar uang mengalir bagai banjir bandang ketika itu, dan tak diketahui ke mana arahnya.
Aku yakin, orang kaya yang rendah hati akan didoakan oleh lebih banyak orang daripada orang kaya yang sombong. Ia memberikan senyum yang sama tulusnya kepada setiap tamunya, apakah tamu itu sama-sama kaya atau miskin papa, apakah tamunya itu berpangkat atau sekedar rakyat jelata, apakah tamunya itu keturunan ningrat atau tak diketahui nasabnya, apakah tamunya itu terpelajar atau tak pernah sekolah. Senyumnya sama, minuman yang disajikan sama, makanan yang dihidangkan sama, keramahan yang ditampilkan sama. Membuat setiap orang yang mengunjunginya merasa berharga, merasa dianggap penting, dan otomatis senang mendoakannya agar semakin sukses.
Bandingkan dengan orang kaya yang sombong, apalagi miskin dan sombong.

0 Response to "RENDAH HATI KAPAN SAJA "
Posting Komentar