KENANG-KENANGAN YANG BERPINDAH TANGAN


Aku menemukan beberapa bungkusan bersampul kertas kado di antara sekian banyak buku yang dibawa suami dari kampus dalam rangka membereskan kantornya. Setelah aku buka, ada satu yang berisi baju koko, selebihnya kain-kain yang belum dijahit. Kata dia, “Kenang-kenangan dari mahasiswa yang sudah lulus, sudah lama di meja tapi lupa mau bawa pulang. Buku-buku ini juga hadiah semua”. Aku tertarik memiliki kain-kain itu, dan ia langsung mengiyakan ketika aku memintanya. Sedangkan baju kokonya tampak lebih kecil dari badannya. Dia meminta pendapatku, “Boleh aku memberikan pada dia?” sambil menunjuk ke seorang tetangga yang biasa menyapukan halaman rumah. Aku setuju.

“Alhamdulilah…” sambutnya riang gembira. Aku jadi ikut gembira melihat sambutannya. 

Pemberian orang kok diberikan pada orang lain lagi? Apakah itu namanya tidak menghargai? Mungkin ada yang bertanya begitu. Dulu aku juga berpikir begitu, bahwa pemberian atau kenang-kenangan dari seseorang harus dijaga sebaik mungkin, jangan sampai berpindah tangan. Selain untuk mengingat dan mengenang orang yang memberikan, juga untuk menjaga perasaannya agar tidak merasa pemberiannya disia-siakan. Tapi, dampak dari pemikiran itu, lemariku jadi seperti museum barang-barang antik. Banyak baju yang tidak pas lagi dengan badanku tetap bertumpuk tanpa pernah kupakai lagi. Begitu juga dengan barang-barang lain, seperti tas, jam, sepatu dan jilbab. Aku sampai kewalahan mengatur letak barang-barang itu, membersihkannya dari jamur dan debu serta menjaganya agar tidak rusak.

Setelah tak lagi punya banyak waktu, aku berubah pikiran. Tidak ada salahnya memberikan barang-barang pemberian orang lain kepada orang lain lagi dengan pertimbangan kemanfaatan yang lebih besar. Bisa jadi, suatu barang nilainya akan lebih besar ketika dipakai oleh orang lain. Tahun kemarin aku diberi oleh-oleh baju bagus dari teman yang pulang dari luar negeri, tapi ukurannya terlalu besar. Setelah dikecilkan, ternyata bentuknya jadi aneh di badanku. 

Setelah tergantung selama 4 bulan dan hanya dipakai satu kali, akhirnya aku bungkus kertas kado, dan kuhadiahkan pada seorang gadis anak tetanggaku menjelang lebaran. Aku terharu sekali ketika hari lebaran baju itu dipakai untuk bersilaturahim keliling lingkungan. Beberapa saat kemudian aku memberitahukan teman yang memberi, meminta maaf dan menceritakan asal muasal mengapa aku tak memakai pemberiannya. Alhamdulilah ia tidak keberatan, katanya, “Nggak papa, yang penting bermanfaat”.

Begitu juga ketika aku dalam posisi sebagai pemberi hadiah. Tidak perlu berkecil hati jika tak pernah melihat pemberian kita dipakai oleh si penerima. Bukankah pemberian itu bertujuan untuk membahagiakan penerimanya? Bila menyedekahkan lebih membahagiakan daripada menyimpannya, maka tidak perlu mempersoalkan mengapa ia tak memakai pemberian kita. Aku yakin, ketulusan kita memberi tidak akan dihapus dari catatan amal baik hanya karena pemberian kita berpindah tangan lagi.

0 Response to "KENANG-KENANGAN YANG BERPINDAH TANGAN"

Posting Komentar

Pengunjung Blog