MAAF SAPU JAGAT


Gegap gempita takbir telah berhenti. Akan tetapi Idul Fitri, khususnya di Indonesia, belum usai. Masih banyak pintu rumah yang terbuka tanpa harus diketuk, masih banyak sajian hidangan di meja tamu tanpa sebelumnya ada yang memberi tahu akan bertamu. Di jalanan, masih banyak orang berlalu lalang dengan busana terbaru dan terbaik, bersama keluarga. Dan tentu saja, masih sangat banyak tangan yang saling menjabat, badan yang saling membungkuk penuh rendah hati, lisan yang berikrar saling memaafkan, menanyakan kabar dan berbincang-bincang penuh kehangatan. Indahnya Idul Fitri… di negeri kita.


Di lebaran tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku juga mengunjungi dan dikunjungi. Yang mengunjungi kebanyakan adalah tetangga, kerabat yang lebih muda, sedang yang dikunjungi adalah kerabat yang lebih tua secara garis nasab, para guru dan sesepuh. Di era digital yang serba mudah untuk berkomunikasi jarak jauh, masih pentingkah bertemu fisik? Bukankah sambil tiduran di kamar saja kita bisa berkirm kabar dan kata maaf? Bahkan bisa ngobrol sambil lihat gambar saudara kita? Memang… tapi pertemuan fisik buatku tetap punya makna istimewa sendiri.
Ilustrasi By Google

Dengan bertemu langsung, kita bisa bersalaman, berpeluk cium, bertukar senyum, betul-betul melihat bahwa teman, kerabat atau tetangga kita sehat atau sakit, bisa tahu kabar terbaru sekolah di mana, kerja di mana, bisa tahu juga penambahan anggota keluarga baru, bisa tahu di mana rumahnya. Tanpa bertemu langsung, kerabat atau tetangga hanyalah sekedar nama, karena fungsinya hilang ditelan kesibukan masing-masing lalu menjadi terasing satu sama lain. Bukankah manusia paling menderita adalah manusia yang merasa asing dengan orang-orang di sekitarnya..?

Lalu, bagaimana dengan saling memaafkan? Apakah kalau tidak ada lebaran lantas tidak saling memaafkan? Tentu saja tidak. Menurutku, saling memaafkan di saat lebaran adalah permintaan maaf global, semacam sapu jagat, minta maaf yang tidak ada rincian kesalahannya, dan fungsinya untuk menyapu bersih sisa-sisa kekhilafan dan kekurangan yang pernah dibuat, yang mungkin kurang disadari saat melakukannya. Adapun kesalahan yang sangat kasat mata, mestinya kita sudah saling memaafkan sesaat setelah menyadari kesalahan itu. Tapi tidak ada salahnya juga, kita yang masih menyimpan amarah, luka atau kecewa pada orang lain dan kemarin-kemarin masih menahan diri dari maaf dengan penuh pertimbangan hari ini mengikrarkan untuk memberi maaf. Bukankah tidak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan?

Sahabatku semua, terima kasih atas persahabatan kita selama ini, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Terima kasih yang telah terlebih dahulu mengulurkan tangan, baik lewat SMS, inbox, status, like atau komentar. Aku sungguh berbahagia mendapat perhatian itu. Dengan setulus hati, aku menyatakan memberi maaf. Dan kepada semua teman, aku mengucapkan selamat bernahagia, maafkanlah aku, sekiranya perilaku dan tulisanku kurang membuat hati berkenan, termasuk juga prasangkaku pada teman-teman semua. Insyaallah, aku tidak pernah sengaja menyakiti, tetapi mungkin tetap ada yang tersakiti. Aku tidak pernah sengaja menjauh, tetapi mungkin ada yang merasa jadi jauh atau terjauhi. Aku tidak pernah sengaja menyombongkan diri, tapi mungkin saja terkesan sombong. Aku tidak pernah sengaja sadis, sinis, keras, tapi mungkin saja ada yang menerima perilaku dan tulisanku sebagai bentuk kesadisan. 

Maafkanlah… maafkanlah…. Maafkanlah…
Lahir dan batin

0 Response to "MAAF SAPU JAGAT"

Posting Komentar

Pengunjung Blog