Setelah tahu aku kuliah di mana, ia berkomentar, “Oh… kenal sama mahasiswi yang kemarin ditahan polisi nggak?”
Aku jawab, “Kebetulan tidak, tapi kampusnya satu atap”
Ketika menemui dosen di Fakultas Ilmu Budaya, beliau bertanya, “Anda temannya F yang bikin heboh ya?”
Aku jawab, “Iya Bu, tapi belum pernah lihat”
Ketika sedang menunggu loket kantor buka pasca istirahat siang, seorang gadis lewat bersama beberapa dosen, semua mata tertuju padanya. Aku membatin, “Ooh, itu..”
Ketika turun dari lantai dua, aku terpaku di tangga. Ada kerumunan wartawan, aku hitung jumlahnya 18 orang, berbusana kasual serba hitam, ada yang memegangi handycanm, ada yang menyorongkan recorder, HP, kamera. Mereka sedang mengelilingi Bapak Dekan. Kutipan kalimat yang kudengar, “Ini murni perkara etika, bukan pidana.”
Inilah sekelumit cerita dari dunia maya yang berlanjut di dunia nyata.
Inilah situasi “istimewa” yang bermula dari serangkaian huruf.
Mari lebih berhati-hati, mari lebih arif, mudah-mudahan kita diberi keselamatan di dunia dan akherat. Kata pepatah, “Selamatnya manusia ditentukan oleh lisannya”.
Mungkin banyak di antara kita yang tidak pernah membaca undang-undang tentang penghinaan, baik secara manual maupun elektronik, tetapi negara menganggap setiap kita sudah tahu undang-undang itu dan terikat oleh isinya. Soal pelaksanaan memang bisa debatable, tapi soal aturannya, begitulah adanya
0 Response to "KETIKA SEMUA ORANG DIANGGAP TAU"
Posting Komentar