Hari kemarin aku naik 6 bis, di dalam dan ke luar kota Jogja. Pertama, pagi hari, dari rumah teman di pinggiran Kulonprogo menuju ke perbatasan kota, aku duduk bersebelahan dengan seorang polisi. Ketika melewati sebuah SPBU yang antriannya mencapai setengah kilo, ia bercerita bahwa di kampungnya, harga bensin eceran seliter 12.000. Ia berangkat dinas malam naik motor, tapi pulangnya harus naik bis karena ogah melibatkan diri dalam antrian super panjang itu. Untung jalan yang kami lalui super lebar, jadi bis bisa melaju dengan lancar dan cepat.
Bis yang kedua, khusus dalam kota menuju kampus. Kali ini, jalan yang dilalui lebih sempit. Setiap mau melewati SPBU sopir selalu mengarahkan bis ke arah lain karena tidak mau terjebak macet bersama antrian kendaraan pembeli BBM. Tetapi, jalan yang dipilih tidak selalu benar, karena pernah masuk jalan perumahan yang buntu, dan harus mundur 100 M. Pernah juga bertemu dengan truk dan sama-sama tidak bisa lewat, akhirnya truknya mengalah mundur.
Bis yang ketiga, dari kampus ke toko buku. Penuh sesak oleh anak-anak sekolah berhelm. Mungkin mereka berangkatnya naik motor, pulangnya naik bis karena kehabisan bensin. Bis keempat, dari toko buku ke batas kota, bersama orang-orang pulang kantor. Ramai di bis bercerita tentang strategi berangkat ke kantor tanpa terlambat. Mereka bilang biasanya naik motor, pagi tadi ada yang naik ojek (dengan harga lebih mahal), ada yang naik taksi, ada yang naik becak bermotor, ada pula yang naik bis. Persoalannya sama, tidak mau antri.
Bis kelima, dari batas kota ke agen bis antar kota. Kali ini lebih seru. Aku dan ibu-ibu berdiri di pintu karena bis sudah penuh. Setiap ada yang turun, kami harus turun duluan dan naik lagi. Mungkin ada lima kali kami naik turun agar penumpang yang di dalam leluasa keluar. Salah seorang ibu yang bersamaku memakai seragam perawat kesehatan. Katanya, "Ternyata asyik juga ya latihan jadi kenek"
Bis keenam, bis antar kota jurusan Jogja-Cilacap yang menurutku saat ini merupakan bis terbaik se-Indonesia. Bis yang bodinya amat besar ini, tak kalah lincah dengan bis kota yang mungil. Dengan gagah berani ia masuk jalan-jalan kecil untuk menghindari kemacetan sehingga kendaraan yang berpapasan harus terpinggirkan keluar dari aspal. Dulu di Jatim, aku benci sekali dengan bis-bis model ini, tapi kali ini aku menikmati sensasinya. Setelah 50% perjalanan, ada info ada truk yang patas as sehingga bis tidak bisa lewat, sopir cari jalan lain. Baru jalan satu kilo, ada kabar jalan sudah bisa dilalui, akhirnya bisku putar balik di sebuah halaman masjid, tapi pohon waru di sudut halaman sedikit jadi korban.
Cerita terakhir, setelah hampir sampai tempat tujuanku, menjelang masuk Sampang, banyak bis dari arah berlawanan belok masuk jalan kecil. Rupanya ada macet parah di SPBU, dan bis yang berangkat satu jam sebelumnya ada dalam kemacetan itu. Sopirku yang cerds segera berbalik arah dan putar lewat Korea dan bernegosiasi dengan beberapa penumpang agar mau diturunkan di luar rencana. Seorang ibu yang mau ke Sampang turun di Bangsa, ada yang mau turun di Kalisabuk jadinya di Cantelan.
Akupun harus telpon berulang kali ke rumah karena lokasi penjemputan harus diubah 4 kali dan 2 KM lebih jauh. Tidak apalah, sedikit berkorban untuk kepentingan orang banyak daripada buang-buang energi dalam kemacetan. Konon, macet itu seperti garam dan durian, dapat menyebabkan darah tinggi. jadi, aku rela berkorban agar penumpang lain tidak terserang darah tinggi.
Itulah cerita ku di Hari Bis Nasional, Hari Antri dan Hari Macet. Ternyata naik angkutan umum jauh lebih menyenangkan daripada naik kendaraan pribadi tapi sulit cari BBM. Jika besok harga BBM harus dinaikkan, aku berharap transportasi publik ditingkatkan jumlah dan layanannya, tentu sangat menyenangkan jika semua bis seperti bis terbaik yang kemarin kunaiki. Super nyaman, aman dari copet, lincah, murah dan bisa menidurkan .
0 Response to "AKU DAN 6 BIS DI HARI ANTRI NASIONAL "
Posting Komentar