TIADA PERJUANGAN TANPA KEREPOTAN

Subuh pagi tadi, baru beberapa detik aku bangun, dua anak asuhku pamit mau berangkat kerja. Itu yang rutin mereka lakukan tiap hari Selasa-Jumat.  Mereka bekerja di tempat yang sama, yang satu belanja, masak dan membersihkan rumah, yang satu menyetrika dan membereskan pakaian. Waktu kerjanya berkisar antara 2-3 jam, antara jam 5 hingga jam 8. Bayarannya? Tentu tidak sebesar gaji pekerja professional bersertifikat, tetapi cukup berarti bagi mahasiswa di kota kecil ini, setidak-tidaknya bisa untuk membiayai pengerjaan tugas-tugas kuliah, fotokopi buku, jajan atau beli keperluan pribadi.

Selepas mereka pergi, aku teringat obrolanku dengan seorang mantan mahasiswa yang galau atas keputusan yang telah diambilnya. Dia sudah memutuskan meninggalkan kuliah yang sebenarnya tidak berbiaya, karena pertimbangan ekonomi orangtuanya. Orang tuanya janji akan memperjuangkan semaksimal mungkin, tapi ia meragukan janji itu. Selain punya fasilitas beasiswa, ia juga punya fasilitas tempat tinggal dan makan gratis. Beberapa teman dekatnya yang juga kukenal baik sudah berusaha memberinya motivasi agar melanjutkan kuliah, soal biaya bisa dicari, tapi ia tetap nekad pulang dengan alasan tidak mau merepotkan orang tuanya. Setelah berbulan-bulan di rumah, muncul kegalauan baru.

“Aku sangat ingin kuliah, tapi tidak yakin ayahku bisa membiayai sampai selesai. Penghasilannya kecil, masih membiayai adik-adikku. Sekarang setelah berhenti aku bingung sekali, ingin kuliah lagi tahun depan, tapi bingung biayanya, kadang-kadang aku juga iri dengan teman-teman yang sudah bisa kasih uang ke orang tua, sementara aku masih jadi bebannya, sebaiknya aku bagaimana? Kuliah apa kerja, kalau kuliah binging biaya, kalau kerja selalu terbayang kuliah”
Aku menjawab, kamu hanya butuh kemauan yang kuat dan jelas, selebihnya kemauan itu akan membuka banyak jalan untuk mewujudkannya. Kalau punya kemauan kuat untuk kuliah, maka jalan untuk dapat kuliah akan terbuka, entah itu dengan bekerja paruh waktu, mendapat donator dari dermawan, menang undian berhadiah, atau sumber lain yang belum diketahui. Kalau kamu punya kemauan kerja yang kuat, maka jalan menuju kesana juga akan terbuka. Bisa juga, kerja dulu yang fokus, tabung uangnya, simpan untuk biaya kuliah setelah cukup, jadi dua-duanya tercapai.

Ya, kemauan. Aku percaya sekali bahwa kemauan adalah sumber energi yang sangat menentukan. Pepatah mengatakan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Untuk kuliah, uang memang penting. Tapi, tanpa kemauan, uang tidak bisa mengkuliahkan seseorang. Sebaliknya, dengan kemauan yang kuat, orang bisa tetap kuliah walaupun tidak punya sumber uang yang pasti. Sangat banyak orang yang telah membuktikan ini. Dua anak asuhku yang berangkat kerja di pagi buta adalah contoh yang aku kenal. Mereka niat kuliah dari rumah, memanfaatkan kesempatan beasiswa, lalu jalan-jalan lain menyusul terbuka.

Tapi, mahasiswa kok kerja jadi pembantu? Apa tidak malu kalau teman-teman kampus tahu?
Mengapa harus malu? Kerja menggerakkan tangan sendiri, meneteskan keringat sendiri, membantu orang lain yang tidak punya kemampuan dan kesempatan untuk membereskan rumahnya, jelas upahnya sangat halal. Nilai positif lainnya, ia juga bisa membangun reputasi sebagai pemasak dan penyetrika yang handal, dan itu sangat mendukung untuk bekal menjadi pengusaha di bidang catering dan laundry.

Di beberapa negara maju, justru mahasiswa akan sangat malu jika biaya hidupnya masih ditanggung orang tuanya, karena itu berarti mereka tidak mandiri, padahal mereka bukan anak-anak lagi, punya tenaga yang kuat dan punya waktu luang. Melewatkan waktu luang tanpa hasil yang kongkrit adalah sesuatu yang tidak membanggakan.

Aku pernah bertemu dengan seorang mahasiswa S2 di Sydney yang bekerja sebagai kuli angkat barang, padahal, kata teman-temannya, ia anak seorang pejabat tinggi di Jakarta. Waktu rombonganku baru tiba, anak pejabat itu mengangkat koper besar dan berat dua sekaligus, dan ia menceritakan bahwa di luar waktu kuliah ia memang kerja sebagai kuli angkut. Kalau mau memanfaatkan fasilitas ayahnya, mungkin ia tidak perlu bersusah payah seperti itu.

Tentu saja pekerjaan paruh waktu yang tersedia bukan hanya di sektor  rumah tangga. Di antara banyak mahasisa kampusku, aku tahu puluhan yang bekerja di luar jam kuliahnya, ada yang buka usaha mandiri berjualan makanan, kerja di warung orang lain, mengasuh anak, memberi les, menjadi tukang foto kopi, pengantar jemput anak sekolah, buka toko baju, desainer, dan lain-lain. Mereka tidak malu, meskipun diketahui teman-teman sekelasnya, bahkan banyak juga yang kuliah sambil membawa jajanan buatannya sendiri, dijual kepada teman-temannya. Aku sering berjumpa mereka di tempat-tempat kerjanya.

Anak asuhku yang lain bekerja sebagai guru ekstrakurikuler di tiga sekolah sekaligus berjualan keperluan sekolah. Ada pula yang kerja di tiga tempat yang berbeda, dengan pengaturan hari sedemikian rupa agar tidak mengganggu waktu kuliah dan pengerjaan tugas. Itupun masih ditambah aktif di organisasi kemahasiswaan.

Apa tidak repot bagi waktu?

Tentu repot, kalau tidak repot namanya bukan perjuangan. Kalau tidak ada perjuangan, bagaimana kemauan dapat menjadi kenyataan?








0 Response to "TIADA PERJUANGAN TANPA KEREPOTAN"

Posting Komentar

Pengunjung Blog