Seorang temanku, (sebut saja
bernama Ahmad) yang tidak aktif di media sosial mengaku sangat terkejut ketika
temannya memberitahukan bahwa ibu mertuanya kerap membuat status dan komentar
yang memalukan. Yang disebut memalukan itu adalah bertingkah genit kepada
beberapa laki-laki, yang intinya mengijinkan, mengajak bahkan menyuruh mereka
untuk mendekati anak perempuannya, yang tidak lain merupakan istri Ahmad ini.
Kegenitan ini terutama ditujukan
kepada laki-laki yang memiliki simbol kekayaan berupa mobil sehingga
memunculkan kesan materialistis alias matre.
“Besok jemput Bunga lagi ya, jangan
lupa jemputnya pakai mobil, nggak kuijinkan kalau pakai motor”
“Makasih ya tadi sudah ajak kita
jalan-jalan, Bunga seneng banget loh, mobilmu bagus, traktirannya juga banyak”
“Makasih ya bonekanya, adiknya
Bunga seneng banget dibeliin boneka mahal, diajak jalan-jalan keliling mal,
ditraktir makan di restoran, diantar jemput pakai mobil, calon menantu idaman”
Awalnya, meskipun merasa malu,
Ahmad menganggap kata-kata ibu mertuanya itu sekedar main-main, atau iseng.
Tetapi, ia menjadi paham betul bahwa sifat matre itu benar-benar merupakan
ideologi mertuanya, karena tidak hanya di media sosial, tetapi juga diungkapkan
ke banyak orang, termasuk tetangga dan kerabat mereka. Ini beberapa cerita yang
kudengar langsung dari tetangganya mereka maupun yang dikutip oleh Ahmad.
“Anakku harus putus sama suaminya,
buat apa suami miskin, beli mobil aja tidak bisa”
“Mereka harus cerai, anakku harus
nikah dengan orang kaya, buat apa menantu miskin dipertahankan, aku sudah punya
beberapa calon, semuanya punya mobil”
Sebagai menantu, sekaligus suami
dari anaknya Ahmad merasa sangat tertampar. Perkawinannya yang belum genap
setengah tahun seolah-olah di ambang kehancuran, karena istrinya berada dalam
kendali ibunya. Semua akses untuk bertemu istrinya ditutup, baik dengan cara
pengawalan 24 jam oleh ibunya, pemblokiran semua saluran komunikasi dan
penolakan semua pemberian. Ketika dengan penuh kesopanan ia bertanya, jawaban
yang didapat adalah:
“Kamu sudah mengecewakan kami sejak
lamaran, kami minta uang 100 juta untuk resepsi kamu hanya memberi 40 juta.
Pernikahan seumur hidup hanya sekali tapi nggak mewah, aku kecewa sekali. Kamu
juga tidak memberi hadiah ketika ibuku dan adik-adikku ulang tahun, tidak
memberiku hadiah waktu Valentine, tidak bikin pesta waktu tahun baru, itu sama
saja dengan tidak menghargai moment-moment penting”
Sedangkan Ahmad punya alasan:
“Keluargaku bukan orang yang sangat
kaya, menyediakan uang 100 juta semata-mata untuk resepsi di rumah istri kami
memang tidak mampu, jadi waktu itu hanya memberi 40 juta, ditambah
barang-barang lain seperti perhiasan emas dan pakaian. Untuk ukuran di kampungku
maupun di kampungnya, jumlah itu sudah termasuk sangat besar, tapi menurut
mereka itu tidak cukup untuk membuat resepsi idaman. Kalaupun aku sisakan uang,
itu tidak lain untuk persiapan masa depan, aku pikir menikah itu bukan hanya
butuh resepsi, tapi juga butuh rumah, perabotan, modal usaha, jadi menurutku
resepsi tidak perlu mewah, yang penting pantas menurut umum, dan ke depan punya
modal untuk membangun rumah tangga. Tapi mereka berpikiran lain”.
Terlepas dari siapa yang benar atau
yang salah, pelajaran yang ingin aku catat dalam tulisan ini adalah alangkah
baiknya, sebelum memutuskan menikah antara laki-laki dan perempuan dilakukan
dialog atau komunikasi untuk menjajaki ideologi masing-masing. Menurutku,
pasangan yang memiliki ideologi yang sama, minimal memiliki banyak titik
persamaan akan lebih mudah melangkah menuju bahagia, karena tidak terlalu rawan
berselisih pendapat. Kalaupun tidak sama, masing-masing memahami dan mengerti
sehingga dapat saling menyesuaikan atau menghargai perbedaan pandang, tidak
merasa perlu memaksakan kehendak.
Dengan memahami ideologi,
masing-masing akan mengetahui apa yang dianggap penting dan tidak penting, apa
yang dianggap benar dan salah dan apa yang dianggap berharga dan biasa saja.
Jika hasil dialog itu menunjukkan
terjadi pertentangan yang terlalu tajam dan tidak dapat ditemukan titik
selarasnya, maka mengurungkan lebih baik daripada meneruskan, kecuali jika
masing-masing yakin memiliki cinta dan komitmen yang lebih kuat dari
pertentangan itu. Menurutku, keselarasan ideologi adalah salah satu kesetaraan
(kufu) yang dianjurkan oleh para ulama, disamping kesetaraan harta, keturunan,
rupa dan akhlak.

0 Response to "CINTAKU TERHALANG OLEH MOBIL"
Posting Komentar